Sunday, May 23, 2010

Menilik Internet dan Anak : Dapatkah Berkawan Baik?*

Seringkali kita menyeletuk ketika semisal ada pertanyaan, “Bagaimana hubungan antara x dengan y dalam kurva z? Dan dengan entengnya kita menjawab, “Baik-baik saja.”
Lalu ketika hal itu dianalogikan terhadap hubungan anak dengan internet, masihkah kita berani bercanda dengan jawaban baik-baik saja? Padahal faktanya banyak kasus anak yang bermasalah ketika bergaul dengan internet.
Selain kasus anak di Surabaya yang melibatkan jejaring sosial Facebook beberapa waktu yang lalu, banyak pula kejahatan seksual terhadap anak berupa prostitusi, dijadikan obyek seks komersial, juga ‘dijahili’ oleh para pedofil. (Ahmad Sofian, via Kompasiana: 23 Maret 2010)
Mengerikan memang. Tak perlu jauh-jauh, waktu anak yang sudah sedemikian tersita untuk menjelajah dunia maya hingga melupakan kebutuhan belajar dan bersosialisasinya pun merupakan dampak tersendiri yang cukup memprihatinkan.

Sarana pemuas rasa keingintahuan anak yg begitu besar.

Era di mana teknologi berkembang begitu pesat seperti ini tentu memudahkan untuk saling berinteraksi dan bertukar informasi. Sejak perkembangannya yang begitu pesat pada 2000-an, keberadaannya menyedot perhatian semua lapisan masyarakat, tak terkecuali anak-anak.
Memang seringkali rasa keingintahuan anak yang begitu besar dapat terjawab oleh internet. Misalnya saja anak dapat dengan mudah mengetahui sistem tata surya untuk penunjang ilmu alamnya barangkali. Namun, ketika segala informasi semakin mudah diakses tanpa batas itu pula-lah yang mengharuskan kita menjaga kewaspadaan terhadap pergaulan anak dengan internet.

Apa yg terjadi dengan anak-anak?
Meskipun bukan sebuah kesimpulan, tidak berlebihan kiranya, jika dikatakan bahwa anak hampir kehilangan dunianya , bahkan di dunia internet.
Sebagai contoh, lagu-lagu anak kini sulit ditemui di blantika musik Indonesia. Anak-anak maupun artis cilik lebih akrab dengan lagu-lagu remaja dan dewasa. Download lagu Kring Kring Goes Goes-nya Amel Carla saja susahnya minta ampun. Mencari situs anak pun tidak semudah ketika mengakses informasi umum lainnya. Keasikan anak-anak mengakses jejaring sosial melulu atau bahkan konten berbau esek-esek bisa jadi akibat kurangnya sumber daya yang bisa diakses anak.

Internet sebagai stimulan bagi tumbuh kembang minat dan bakat anak.

Kurang bijaksana kiranya, jika internet yang hanya berperan sebagai media terus-menerus dipersalahkan hingga menimbulkan internet phobia. Padahal, internet tidak selamanya menjadi momok yang mesti ditakuti.
Sebenarnya orang tua dapat memanfaatkan internet sebaik mungkin. Di antaranya sebagai sumber juga perpustakaan ilmu dari seluruh dunia untuk anak-anak, asalkan penggunaan internet dengan benar ini dijelaskan oleh orangtua sebelumnya. (Seto Mulyadi, via Okezone: 28 April 2010)
Wah, kalau mau memanfaatkan dengan baik, internet bisa jadi ajang sosialisasi pun menumbuhkan jiwa kompetitif bagi anak. Misalnya saja, bikin komunitas para ibu dan anak, sebagai media interaksi pun sharing baik antar ibu maupun antar sesama anak. Baik juga mencoba membuat blog kelas yang dimotori oleh guru di sekolah. Postingkan pula karya anak misalnya puisi dan foto lukisan mereka.

Kebutuhan baca menjadi hal utama dalam pendidikan anak. Oleh karena itu, orangtua bisa mencarikan sumber pengetahuan melalui internet. Hal itu tidak hanya lebih efisien, tapi juga bisa dijadikan sebagai sarana mengenalkan internet kepada anak. Orangtua juga bisa mendownloadkan aplikasi game berupa flash yang lebih bermuatan pendidikan daripada video game biasa yang seringkali berunsur kekerasan. Secara tidak langsung, orang tua memiliki kesempatan mengajarkan kepada mereka apa-apa saja yang boleh diakses dan tidak. Bukankah itu sama artinya dengan mengenalkan dunia baru yang lebih sehat dan kritis bagi anak?

Tindak lanjut orang tua
Ketika anak menggunakan internet, ada baiknya tidak me-load images untuk mengantisipasi munculnya gambar –gambar porno atau konten berbahaya lainnya. Yang terpenting, dampingi si anak ketika menggunakan internet. Selain menumbuhkan kedekatan antara orang tua dan anak, hal itu menjadi momen untuk mengenalkan seputar internet dan etika berinternet (nettiquette). Jadi, ketika anak-anak terpaksa online sendiri, mereka memiliki bekal berinternet dengan baik dan benar.
Upaya lain yang bisa dilakukan orangtua yaitu membatasi durasi online si anak agar alokasi waktu mereka tetap terkontrol. Dan perlu dicatat bahwa membiarkan anak sembarangan mengetikkan kata kunci lewat search engine tentu bukan langkah bijak. Dikhawatirkan, akan muncul konten-konten berbahaya yang tidak sesuai dengan usia anak. Bahkan, kerap kali informasi yang diakses memang seputar dunia anak, tetapi banyak konten lain atau iklan di sekitar website yang bukan konsumsi anak.
Jika anak hanya online di rumah, tentu pengontrolan dari orang tua lebih mudah. Dengan fasilitas yang ada pada browser, orangtua dapat menyetel pengaturannya bahkan memblokir situs-situs tertentu. Namun, maraknya warnet di sekitar kita hendaknya menjadikan orang tua lebih perhatian terhadap aktivitas anak.

Di samping orang tua yang memberikan keleluasaan pada anak untuk berinternet ria, adakalanya masih banyak orang tua yang segan jika anaknya harus bergaul dengan internet. Kasus-kasus yang telah disebutkan di atas kiranya menjadi salah satu aspek yang menambah daftar panjang antipati mereka terhadap internet.
Mungkin mereka lebih memilih metode pendidikan ala biasa tanpa banyak melibatkan teknologi bernama internet. Toh, pengetahuan anak tetap dapat berkembang dengan baik asal gemar membaca buku, mungkin begitu kilahnya.
Tidak masalah sebenarnya memilih tetap konvensional atau berani mencicipi pahit manisnya teknologi dengan tetap menjunjung tradisi. Yang patut digarisbawahi, bahwasanya anak merupakan investasi jangka panjang dalam keberlangsungan sebuah negara. Belum lagi dengan melihat dampak negatif atas pola hubungan anak dengan internet, seyogyanya sudah cukup membuat kita terketuk bahwa banyak hal yang harus dibenahi di setiap lini. Maka, mari bergerak selamatkan dunianya. : )

Selesai.
*ditulis untuk mengikuti lomba blog aksikreasi #2 Bulaksumur dan sebagai bentuk kepedulian kecil terhadap dunia anak.

Saturday, May 8, 2010

Ajaran macam apa cinta IkaL - A Ling?!

Ditulis pertama kali pada 4 Januari 2009 dengan menggebu-gebu.
Edit bahasa dan tulisan: 22 Maret 2010 :D
Masih ingat Maryamah Karpov, sobat?
Ini tulisan ketika saya sedang dalam proses menyelesaikan novel setebal itu :


(sumber gambar)


(sumber gambar)

Kenapa mesti A Ling? Aku rasa perjuangan IkaL adalah untuk mengajari bagaimana kita memperjuangkan mimpi/cita2, bukan cinta, seperti yg ia lakukan sendiri. Kenapa A Ling?! Aku tidak habis pikir secerdas otak IkaL semuanya dipersembahkan buat A Ling se0rang?? Pernahkah kau brpikir sepertiku kawan? Yang hampir tergelitik atau malah ingin muntah2 menyimak sejuta cara IkaL untuk menemui pujaan hatinya..
Sungguh,aku hanya menggeleng2 betapa sejuta pesona hidup IkaL luluh lantak di mataku hanya karena sejuta cintanya untuk A Ling.. Ah,tapi hanya di mataku kok, tentu bagi banyak pembaca Maryamah Karpov lain tidak serupa. Hm,apa memang aku yang buta soal cinta?? Atau karena aku hanya berusaha realistis terhadap segala hal,utamanya soal cinta? *Saya jadi teringat tulisan di kaos Joger saya, bunyinya:

Haha.. #ILoveQuotes.
Hm, sedikit lama aku berpikir, apa aku saja yang picik ketika membaca cerita IkaL?! Bukankah kerealistisan itu salah satu kendala penghambat cita?! Aku rasa IkaL tak pernah realistis soal mimpinya, makanya Tuhan selalu memeluk mimpi2nya itu.

Aku kembali bertanya, kenapa mesti A Ling?? Aku jadi penasaran, perempuan macam apakah si A Ling tersebut, seingatku IkaL tak pernah menceritakannya dengan begitu detail. Hanya paras kuku2 A Ling yang cantik begitu juga senyumnya yang sampai kini memikat IkaL dalam dimensi mimpi dan rindunya. Sebegitu mengandung toxic-kah perempuan itu di mata laki2 seperti lagu yang dibawakan The Changcuters hingga Ikal rela menukar nyawanya hanya demi sekulum senyum A Ling?! Ahh, kerasionalan logika laki-laki memang sering perlu dipertanyakan.. Atau, cinta pada dasarnya tak kenal logika?
Ahh, tak adakah yg lebih indah di dunia ini selain urusan cinta dan tetek bengeknya??
Bah.
Hm, setelah aku mereview kembali ingatanku soal cerita IkaL - A Ling,aku baru saja menemukan sesuatu. Kawan tentu tahu betapa melownya cerita orang sedang mabuk cinta dalam mendramatisasi ceritanya. Betapa banyak cerita melankolis, para pencinta selalu ditampilkan tergolek lemah atau sakit2an karena tak jua bertemu pujaan hatinya, atau karena cinta yang bertepuk sebelah tangan, dsb. Seperti Maria yang kehilangan 'separuh nyawa'nya karena Fahri, atau cinta tragis Jani kepada Radit (film Radit dan Jani). Hm, sedangkan dalam cerita Andrea Hirata, kemelankolisan Ikal hampir sama sekali tidak tampak. Cintanya terbungkus apik dengan semangat yang menggelora hingga terkesan heroik, meski sebenarnya melas tiada tara..

Perjuangannya berjibaku dengan keadaan alam Eropa Afrika beserta segala kesulitan yang menghadangnya, menjadi pendulang timah, usaha Berae demi rupiah2 untuk modal menyingkap misteri A Ling, sampai pada akhirnya membuat perahu sendiri dengan teori2 sumbangan Lintang adalah kenekatan luar biasa yang menampilkan semangat perjuangan Ikal yang sebenarnya menurutku adalah lebay, cengeng!
Itulah, melankolisnya Ikal dalam impiannya terhadap A Ling digambarkan dengan semangat, pantang menyerah, tekad-nekad yang sudah menyetan dalan diri Ikal hingga menjiwai seluruh lakunya.
Bukan cinta yg mellow,melankolis, dramatis, tangis, terkulai, tragis sampai menemui mati.

Ya, setiap orang berhak mengapresiasi buku yang dibacanya sekehendak hatinya. Maksudku sekehendak hati yaitu bagaimana caranya ia menginterpretasi, menerjemahkan dengan cara pandang tertentu, dengan maksud agar mengena dan membarikan manfaat bagi (utamanya) dirinya.
Seperti halnya dalam cerita ini, aku masih bersikukuh dalam cara pandangku bahwa Andrea Hirata mengajari kita bagaimana memperjuangkan mimpi hingga mengantarkan sampai ke langit lapis 7 biar dipeluk Tuhan. Bukan bagaimana cara kita pantang menyerah memperjuangkan seseorang apalagi hanya sebatas lelaki atau perempuan yang belum tentu menjadi milik kita! Jadi kita dapat mengambil sedikit pelajaran bahwa cara Ikal menuju perwujudan citanya adalah dengan tindakan-tindakan produktif, bukan bermalas-malasan bermuram durja di kamar!

Meskipun menurutku perjuangan-perjuangan cinta macam begitu itu masih saja tak jauh beda dengan cara manusia merendahkan dirinya,demi cinta A Ling?(ingin muntah aku rasanya)tapi setidaknya semangat pantang menyerah itulah yang patut kita teladani.

Sekian.

Saturday, May 1, 2010

Menulis? (Hasrat Menulis part 1)

"Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari...." (Pramoedya A. Toer)



Sebelumnya, izinkan saya sedikit mengurai sejarah.

Aku menulis di segala tempat, di segala suasana, di segala media tulisan: kertas, catatan keuangan, tepi modul SMA, loose leaf. Menumpuk di sela-sela kolom koran, notes hape selalu, di telapak tangan, bahkan sewaktu di kamar mandi, Aku menulis di balik kartu UAN SMP, di notes kecil, di segala buku pelajaran, menyoret2 buku, lalu merobeknya… Saya benar-benar semena-mena!!

Bahkan dulu pernah ketika masih suka menangis, saya tutup pintu kamar, masuk kolong tempat tidur, membawa spidol hijau dan menuliskan kata-kata sederhana yang menyesakkan di setiap bilah permukaan kayunya yang meraung di sana. (adakah bagi kritikus sastra satu kalimat di atas sedikit tidak logis? Saya butuh koreksi.)

Tak peduli kata-kata itu hasil pemikiran, atau sekedar rekaman kisah harian.



Hehe.



Tahun lalu, pada 14 November saya menulis:

Saya suka cerita saya, sejarah hidup saya. Ya, seharusnya setiap orang bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri, terhadap sejarahnya.



“Bayangkan kalau tradisi menulis nggak pernah ada,

kalau tradisi merekam peristiwa, gagasan, dan perasaan nggak pernah ada,

apa kita bakal mengenal siapa ennek moyang kita?

Bayangkan kalau anda tidak menulis,

tak berusaha merekam gagasan dan pikiran-pikiran Anda,

apa cucumu nanti akan kenal siapa kamu?



Seandainya kakek saya, semasa hidupnya menulis sesuatu, mungkin sekarang saya mengenal siapa dia. tetapi itu tak pernah terjadi. Tak selembar pun tulisan yang diwariskan kakek pada saya. Saya tak pernah tahu isi kepala kakek, selain bahwa dia adalah seorang seorang lelaki tua leluhur saya. Maka jangan salahkan saya, jika saya lebih mengenal Karl Marx, Jostein Gaarder atau Pramoedya Ananta Toer, yang bukan siapa-siapa saya, daripada kakek saya sendiri.



Dendam itulah menjadi energi besar yang mendorong saya untuk terus menulis. saya tak mau dilupakan sejarah. saya mau jadi orang yang berkesadaran sejarah. Maka saya memutuskan untuk menulis. Agar kelak, jika cucu saya tak sempat tahu apa yang kakeknya pikirkan dan bicarakan semasa hidupnya, ia bisa mengenal kakeknya lewat tulisan-tulisannya!” (WIA~Fahd Djibran~JuxtaPose)



Saya pikir, itu alasan sederhana sebenarnya, tapi tidak cukup kerdil. Sebab nantinya bisa jadi akan melahirkan sesuatu yang spektakuler, dan menurut saya itu terbukti melalui buku WIA Fahd Djibran itu sendiri.



Saya bersyukur telah sadar hal itu jauh-jauh hari, sekecil apapun artefak pembentuk sejarah: sms, nota, karcis, kertas kado bekas, atau apapun yg pernah menjadi bagian dari sejarah saya, saya simpan baik-baik, apalagi notes HP, hwah.

Saya tak mau sejarah saya nantinya akan belang bontang hanya karena arsipnya yang tak lengkap.

Dan ingat, sekecil apapun catatan itu, jangan dibuang. Suatu saat catatan-catatan itu akan menjadi kekayaan kita yang paling berharga. (kutipan dari buku Writing is Amazing karya Fahd Djibran)



Suatu ketika tanggal 2 November 2009 saat saya hendak balik ke Jogja dan memboyong segepok ‘kertas hidup’ _karena mereka bisa bicara_ saya membesarkan hati dengan kalimat ini:

“mungkin mereka bilang ini sampah. tapi menurutku ini sejarah! :)”



Hm, saya tak mau sejarah saya bernasib sama seperti kebanyakan sejarah Indonesia yg diajarkan semasa sekolah dasar-menengah: jadi kabur, atau sengaja dikaburkan.



Semua berawal dari kesadaran. Saya sadar, saya bukan orang besar yg pernah berjasa banyak, mana mungkin sejarah saya akan ditulis orang, siapa yg tertarik?!

Mas BuLBuL saja dalam komentarnya pada status saya pernah nyeletuk: “Halah, kisah hidup e Lady po menarik, hahah..”

Ada yang ingat itu?! wkwk..

Secara tidak langsung saya membenarkan: “hahah…” :D

Dan yg tak kalah penting, menurut hemat saya kecenderungan terjadinya subjektivitas justru lebih kecil kemungkinannya. Karena pada prinsipnya kita sendiri yg lebih mengetahui sejatinya diri kita, apalagi jika brhubungan dgn pemikiran. Bukan berdasarkan pandangan org lain mengenai diri kita.

Kita bisa brtindak lebih objektif ketika membaca diri sendiri.



Saya sering menyemangati diri sendiri, dan saya kira itu memang sangat perlu to, dalam hal apapun kan..?! :)



Enam November tahun lalu: “menulis jangan lagi menunggu mood, tp ciptakanlah selalu m0od yg baik utk menulis! Lalu brlatihlah menulis yg baik! Huhuhu”



Atau saya merasakan sesuatu dan mencatatnya:

"bahkan partikel terkeciL penyusun tubuhku adalah kata. kata... "(05/11/2009)



Pernah juga saya bilang: Saya tidak memuja tulisan. Saya hanya berusaha membuat tulisan yang pernah saya telurkan berumur lebih panjang..



Atau juga berupa tekad, angan, impian, harapan:

Hm, suatu saat nanti, saya merasa sangat ingin menulis autobiografi, mengisahkan setiap jengkal cerita khdupan saya bersama mereka, bersama mereka, dan atas hidup saya sndri. Tidak luar biasa, tp entah sy mrasa sngat perlu berbagi dgn dunia, menuangkan ragam pmkirn yg tak ada habisnya. Entah krn niat baik atw sekedar unjuk ego demi eksistensi.. (25/10/2009)



Oya, berkaitan dengan sejarah, komitmen menyuarakan, hingga keabadian yang pernah saya singgung itu, Pak Pram dgn otak ampuhnya lagi lagi sudah duluan berbicara:

"....orang boleh pandai setinggi langit

tapi selama ia tidak menulis,

ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Menulis adalah bekerja untuk keabadian.



Seketika saya terlecut dan meletup-letup ketika membacanya pertama kali di stiker Canopy dari Universitas Brawijaya yang tertempel di pintu sekretariat Balairung UGM.

Semoga anda pun begitu, entah ketika sudah membacanya yang ke berapa kali.



Ya, maka marilah menulis, torehkan sejarahmu! :)

Thursday, April 29, 2010

Pernikahan: Bukan Sekedar Urusan Bantal Guling :D

Saya tergelitik untuk membicarakan pernikahan dari sisi lain. Banyak orang bicara pernikahan vs pacaran dan sejenisnya. Kali ini yg membuat saya tergelitik adalah: benarkah pernikahan / perkawinan hanya untuk menghalalkan nafsu manusia yang butuh dipuaskan kebutuhan biologisnya? Aw aw aw..
Serendah itukah? Berapa kepala ya yang punya pemikiran kaya’ gitu…
Tidak salah sebenarnya. Islam pun membenarkan bahwa reproduksi manusia itu harus tetap berjalan. Mungkin itu juga alasan kenapa sejak dulu Islam tidak menerima tindakan homoseks.

Oke, back to the topic guys..
Hm, apa karena saya perempuan mungkin, dalam bayangan saya pernikahan itu rumit tetapi simpel, simpel karena tidak perlu tahu banyak soal perkara tempat tidur, soal istilah-istilah yang pasti dibidangi oleh dr.Boyke atau pun dr.Naek Tanjung (?) yang bikin saya bergidik giris dan enggan mmbayangkan macam-macam, atau sejenisnya lah pokoe.
Pernikahan adalah bagaimana berbagi dengan pasangan, mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak terbaik kelak, jauh dari urusan remeh-temeh macam kasur bantal guling! *sekali lagi tanpa bermaksud menafikan apa itu kebutuhan biologis yang telah menjadi fitrah manusia*
Hm, saya lebih suka terharu dan sedikit berurai air mata ketika membayangkan bagaimana mendidik anak-anak kelak, atau bagaimana menyiapkan makanan dan memberikan kejutan-kejutan kecil untuk suami dan anak-anak.
Saya pikir itu lebih berinvestasi jangka panjang dan memberikan kemaslahatan yang universal: anak cerdas, bangsa maju, bapak senang, investasi akhirat.
Iya kan?Memangnya ada kontraprestasi yang lebih baik dari itu?!
Daripada ‘sekedar’ puyeng membahas bagaimana ‘jurus-jurus’ terbaik untuk making love’ di keremangan di bawah selimut. Zzzz.. *hoeekkgg*
Oke, pemikiran dini ini boleh disalahkan karena toh saya memang belum mengetahui seluk beluk pernikahan.

Okelah, tapi tolong jangan racuni saya , saya cukup puas dengan pengetahuan yang sedikit ini, tak mau membicarakan lebih jauh.
Rasulullah pun memang dikenal sebagai pria romantis yang sangat menghargai dan mengetahui benar apa mau istri beliau. Tapi bukan berarti lantas keromantisan selalu diterjemahkan dengan kegiatan seputar ranjang saja kan?!
Tolong, jangan racuni saya, selain karena belum waktunya, ya saya pikkir pemenuhan kebutuhan biologis dengan sekedar bereproduksi yang sehat itu jauh lebih baik dan lebih dari cukup daripada banyak mempelajari pengetahuan yg gunanya hanya untuk kesenangan dua insan saja dan malah banyak beresiko penyakit!
Wallahu’alam
Nb: terinspirasi dari artikel-artikel di arsip Tribun Indonesia 2008
*Parno ga sih sebenarnya ngomongin beginian? Semoga pembaca cukup bijak untuk menilai :)

ditulis pertama kali pada februari 2010, hingga berani go public hari ini : 28 april 2010

Sunday, January 10, 2010

Cewek Anti Maskulinitas? Haha…

Cewek Anti Maskulinitas? Haha…
(Maskulin itu Kolaborasi Pemikiran Jiwa dan Cara Bersikap)


Menurut saya, menatap langit-langit kamar dengan mimik serius itu salah satu bentuk maskulinitas lho.. hehe, kok bisa?!
Ya iya..
Seringkali saya setelah sholat langsung tergoda untuk berbaring (mak blek). Dalam keadaan masih terbalut mukena, saya rebahkan diri (mlumah) dengan sikap sempurna, lalu menyimpan kedua tangan saya di balik kepala sebagai tempat bertumpu (kaya’ posisi mau sit up itu lo..)

Bayangkan, haha, atau coba praktekkan, anda akan merasa seperti laki-laki (bagi perempuan), haha.. *setidaknya itu yang saya rasakan*. Dengan dada bidang dan pundak tegap, pandangan mata lurus menyorot ke atas (langit2 kamar) seolah membidik sasaran. Ya, itulah model-model lelaki menurut saya,__ mm, entah kenyataan dunia mereka seperti itu atau tidak, saya hanya mereka-reka, menyelam sebentar ke ‘dunia lain’ di sana__.

Kenapa? Karena pada saat itulah rasanya memiliki jiwa seorang pria, hehe. Sekali lagi, SERIUS, MATANG, TERARAH, dan JELAS apa yang dipikirkannya, gak sekedar ngelamun. (Ah, bingung saya ngejelasinnya, praktekkin sendiri deh). Wes to, poko’e ada sensasi tersendiri ok! Hahaha… ;D

Hm, mata memang tak mempu berakomodasi maksimum karena ‘kejedot’ atap, tapi itu masih lebih memberikan ‘ruang gerak’ daripada cuma mengamati isi kamar: lemari, kasur, rak, meja belajar, bla bla bla… Ada sejuta inspirasi dari atap kamar itu. Ya, kita dapat memikirkan apa saja di sana, mereka-reka………

Nah, coba bayangkan (dan atau praktekkan) kalau misalnya begini: berbaring miring, sambil molet-molet ga jelas, apalagi tengkurap, rasanya lebih kecewek-cewekan kan daripada kelaki-lakian?! :P
Ya memang sih sama-sama ada yang dipikirkan, tapi lebih cenderung pada pemikiran yang ‘santai’, ga brilliant, cengeng, hohoho.. Apalagi kalo pas tengkurap itu, coba deh perhatikan, biasanya perempuan itu kalo nangis (misal baru diputus pacarnya) tengkurap kan?! Pulang-pulang langsung masuk kamar, pintu dibanting, *jdhiiaerr!*, trus sesenggukan sampe bantal membentuk pulau-pulau besar, BASAH! *Hwohoho,,kebanyakan nonton sinetron, ;p*

Nah, itu dia, ya setiap orang memang punya style sendiri-sendiri sih, ga bisa digeneralisasi begitu saja, tapi ya begitulah, kadang sesuatu yang serius, brillian, emang (kadang) juga harus ditelurkan lewat cara bersikap yang eksentrik pula, hahahha…
Dan sayangnya, hal demikian itu (lagi-lagi menurut saya) terdapat dalam jiwa/model-model lelaki, bukan perempuan! Hwe, ya gpp kan kita (perempuan) pinjam sebentar, yang penting kan setelah memperoleh ‘sesuatu’ dari eksyen yang nyentrik tersebut, kita kembalikanlah… dan mari kembali pada wujud semula, :D

Nah, seperti pengalaman saya juga begitu, mulanya saya pake’ posisi maskulin kaya’ tadi, saya menemukan gagasan ketika itu, dua atau tiga bahkan. Hm, saya bertutur lancar, terarah menatap langit-langit kamar. Menatap, bukan memandang, benar-benar bertutur yang terarah, meskipun tidak saya lafalkan melainkan hati saya yang komat-kamit.. Wkwk..
Intinya, benar-benar BERGAIRAH!

Karena takut kehilangan gagasan yang saya temukan saat itu tadi, segera saya ambil pena dan menuliskannya, cepat-cepat, keburu menguap. Posisi saya masih baik, berbaring miring, dan tulisan saya masih lancar.. terus.. terus..
Lalu pegal juga, sulit menahan godaan untuk tidak tengkurap, dan apa hasilnya?! Beberapa menit kemudian, MALAS, muncul pikiran-pikiran MELANKOLIS, dan NGANTUK!
Weleh-weleh…

*Tuh kan, saat saya buka pintu kamar teman kos sebelah saya dengan tanpa permisi, wkwk, saya temukan diia dalam keadaan mureb sambil nulis-nulis sesuatu, haha...
Dasar perempuan! :P

# Pemikiran ini hanya gagasan sambil lalu, belum pernah dibuktikan dengan angket, kuosioner, polling, dan penelitian-penelitian sejenisnya secara lebih lanjut. Semua hanya sekedar spekulasi dan hipotesis penulis semata, hehe, jadi dapat berubah sewaktu-waktu. Dengan ini, harap pemakluman saudara-saudara. :-P #

Akhir kata: “wahai laki-laki bukan bangsa reptil, subhanallah.. sejumput persembahan kagumku untukmu..” :’)

Ditulis: pertengahan November 2009
Revisi: 29 Nov 2009


diterbitkan di FB pada 30 Nov 2009

Sunday, June 14, 2009

Detik-detik KeluLusan , Huwooo..

Huwoo..
detik2 pengumuman kelulusan UAN..

kehebohannya sudah menggema di setiap sekolah2 yg para siswanya begitu penasaran
menyambut pengumuman resmi besok Senin, 15/7..
Weh, burung2 camar mulai menyebar..

isu merebak..

semakin dheg-dhegan.

Awalnya pagi tadi dikabarkan kalau beberapa siswa sekolah saya (SMAN 1 Blitar) masuk peringkat 10 besar nilai UAN tertinggi se-Jatim
(klik di sini), dua anak dari jurusan IPA, dua anak pula dari IPS.
Wow! kabar yg tentunya lumayan fantastis tersebut sempat membuat berdecak dan mengucap syukur.
Tapi bukan berarti angin segar itu terus dapat kami nikmati, pasalnya sekolah saya belum memberikan kepastian soal kelulusan UAN ini, sedang di antara kami gosip yg beredar menyatakan kalau dua anak tak lulus!
Huwwah.. semua cemas! dheg-dheg'an! penuh tanda tanya dan semakin tak sabar menunggu esok, heboh!

Lalu saya mencoba membuang aura-aura negatif dengan menghadirkan pikiran positif, ya, saya pikir semoga saja itu hanya isu-isu yang memang sengaja dihembuskan supaya lebih surprise kalau ternyata sebenarnya lulus semua! (heheu, menghibur diri sendiri), seperti yang tadi langsung saya tulis di Facebook :
Tapi lagi-lagi pikiran macam-tetap saja terlintas, apalagi teman-teman banyak yang nanyain lewat sms yang membludak di inbox saya dan menyatakan kekhawatiran masing-masing.

Saya kembali mencoba bermain 'tebak-tebakan', berspekulasi. Sebab menurut saya yang menjadi kekhawatiran itu guru-guru belum ada yg berani angkat bicara saat ditanyai oleh teman-teman. Hal ini tentu sangat bertolak belakang dengan fenomena yg ada di sekolah tetangga, SMAN 3 Blitar, pihak sekolah sudah berani mengumumkan kalau seluruh siswanya Lulus 100%!
Weh2, ada apa ini?!
Tidak hanya sampai di situ, salah seorang teman saya juga bikin harap-harap cemas.
Dalam status FB nya dia menulis seperti ini:

Weh, kok jadi mengharu-biru?!
seolah akan ada berita duka, huhuhu...

Dan kalau memang isu yang beredar di sekolah saya cuma sekedar kabar burung yg sama sekali tak mengandung kebenaran, tapi mengapa kok hanya disebutkan kalau yg tidak lulus
dua siswi IPA?! kenapa hanya jurusan IPA?!
maksud saya, biasanya kalau untuk acara 'mengelabui' siswa, gosipnya tuh seharusnya disebutkan dari kedua jurusan, IPA dan IPS, bahkan biasanya Laki dan perempuan.
Tak seperti ini.
Hmm, apa ini trik 'mengelabui' siswa model terbaru?!
Semoga saja. Sebab apalah artinya niLai tertinggi se-jatim kalau
tak Lulus bebarengan..
Kami mohon yang terbaik bagi kami , Ya Allah...
Ya, euforia paling manis, Amiin.. ^_^

Sunday, April 26, 2009

Batu sandungan yg berpendar..

Aku masih sering terpaku
Kala ku meniti jalan..
Baru saja ku hanya melirik pendaran kenang masa siLam, menjadi batU sandungan yg telah membuatku terantUk berkaLi2..
Padahal aku hanya meLirik,sepintas,tanpa menjiwai bahkan tak berniat kuteng0kkan kepalaku menghadapnya, sebaB ku pikir aku takut leherku tak bisa kuputar kembaLi, terPAku di sana..

Siluet beLakang yg masih berpendar, keterPakuan yg menghujam hampir ke uLu hati, meneLusupkanku dalam keping2 kerapuhan yg neLangsa..

Perasaan Laknat macam apa ini?!
Bersama Luruhnya air mata yg tak mampu tertahan..
Seperti segaLa persendian dipaLu g0dam sampai ngiLu..
Seakan menjaLar sakitnya larut..
Atau membiru darahku sesaat, tepat ketika kegeramanku memuncak tak terhambat..

Batu sandungan yg berpendar..
Sekuat tenaga masih ku c0ba mengatupkan bibirku,menguLaskan segaris senyum, sembari meneLan ludah pahit demi tak menetesnya Luh dari mataku yg berkaca2,.
PadahaL aku slalu terduduk,hampir terSungkur setiap kali terantUk..
Harus bgaimana kuLuapkan em0siku,selain dgn menc0ba banGkit mencari asa yg timbul tenGgelam,meski merangkak hatiku tertatiH,atau malah meradang dan menerjang,,

Tak kusangka, sunGguh tak dinyana, dibalik senyumku yg senantiasa mengembang, bhkan tawaku yg terus Lepas,
diantara kekuatanku beradu ot0t dan keangkuhanku mend0ngak ke atas,
aku masihlah perempuan yg hidup dgn pendar masa silam,terantuk oleh permainan batu sandungan..
betinatanGguh macam apa aku ini?! Om0ng k0s0ng!
Harapanku hampir luruh,
Pun meski aku dan kau berpadu..

Sunday, April 19, 2009

Doa berSama dua hari menjeLang UAN..

Dua hari menjelang UAN..
LBB Ganesha Operation (tempatku les selama kelas 3) mengadakan doa bersama yang sbelumnya juga udah tryout..
Hm, *aq kq bingng to mulai ceritane ko ndi??*
Oke, mulai dari sini aja, acara doa bersama diLaksanakan di GO aku berangkat bareng Tia dari GO sebelah timur (GO terpisah jadi 2, yang satu di jalan A.Yani, yang satunya lagi di Jln. Diponegoro)
Nah, dari GO Dipo singgah duLu ke masjid Ar-Rahman buat sholat ashar..
seteLah itu berhubung jaraknya dekat, kami jalan kaki..
Waduh, udah jam empat kurang seperempat kira2, padahaL jadwaLnya jam 3 sore..
Tapi ya biasalah, sampe sana juga belum teLat2 amat, semua udah rame kumpuL tapi
masih mau dimuLai..
Hm.. aku 'n Tia masuk ke salah satu kelas..
Hwe..banyak temenku sesama anak IPS, tapi kasihan Tia juga sebenarnya'cz dia anak IPA,
sendiri puLa, hahhaha.. Hm, oke, setelah sempat ngobroL sebentar, acara dimuLai, diawaLi dengan pembacaan ayat suci Alquran *hedeh, kenapa gaya bahasaku jadi kaya' MC saja..* oleh tentornya kalau gak salah, soaLnya kami cuma denger suara tanpa rupa! hahha..
coz kami di dalam ruangan, sedangkan yang lain beserta tentor2 tuh malah di luar,,


Setelah selesai baca Alquran (qiroah), dilanjutkan dengan sedikit sambutan dari Kepala GO,
ya isinya bla-bla-bla dst, soale gak sambiL liat orangnya sih (baca:suara tanpa rupa, maksudnya ada suara tapi gak tau orangnya dimana), trus disambung pembawa acara lagi juga ngmong 2-3 patah kata..
Nah, ini dia yang kita tunggu2, ceramah dari motivator, sebelumnya diperkenalkan dulu orangnya, bla-bla-bla, kalo ini aku agak ingat, namanya kalo ga salah Pak Zubaidi, tentor bahasa inggris di GO Tulungagung, Malang.. Aku juga pernah diajar satu kaLi sama pak itu.. hohoho... lucu tapi. Oke deh, gak penting soal identitasnya, heheu, coz purpose of this text (heLeh) bukan itu, melainkan setelah ini..
Ehm2.. awaLnya sih biasa aja, aku n temen2 gak terlalu menyimak dengan baik
coz dari dalam ruangan gak begitu jelas sih, pokoke emang gak enek kalo suara tanpa rupa, heheu.. Orangnya juga cerita ngaLor-ngiduL, ga tau juntrungannya mau kemana.. pokoe muter2, pengennya memotivasi, ya soal keLulusan dst (aku lupa), tapi dasar aku yang gebLek aja kali ya, jadi ga begitu ngerti tu orang maunya apa sih.. hehe..

Hm, trus setelah kurang lebih satu jam tentor itu cerita macam2, dari A-Z, tapi
juga banyak boLong di tengahnya (emang donat??) , acara dilanjutkan ke sesi doa.. Pak tentor yang motivator itu juga yang memimpin doa..
Asiknya doanya ga banyak bahasa arabnya, tau juga kan kalau anak GO
terdiri atas berbagai ras, suku bangsa dan agama, hehe,, Dan bukankah yang penting tuh doa dipahami maknanya.. Eh, emang bukan murni doa deng, lebih tepatnya renungan!!

Hm,,pak tentor mulai ngomong dari A, lanjut ke B, dan seterusnya, kali ini gak ada boLongnya menurutku... huhuhu... kaLo gak saLah diawaLi mulai dari ngomongin soaL dosa..

"Ya Allah..kami sadar, kami mengakui begitu banyak dosa2 kami hingga tak terhitung lagi, mungkin kami tak pantas memohon padamu Ya Allah.. Tapi kepada siapa lagi kami memohon selain kepadaMu Ya Allah, kepada siapa lagi kami mengemis memohon belas kasihmu selain kepadaMu, hanya Engkau Ya Allah, EngkauLah penolong kami, hanya kepadaMulah kami memohon.. LahauLaa waLaa quwwata iLLa biLLah...(dst).."

Lalu lanjut membayangkan soaL keLulusan, nanti tgl 14 Juni, pas liat pengumuman, dengan rasa was-was dan penuh harap, dan seterusnya..


".. pada saat itu
kita akhirnya menemukan nama kita di papan pengumuman, dan disitu tertulis.. bahwa nama kita Lulus.. bayangkan,, betapa bahagianya kaLa itu.. kita menangis haru dan berpelukan dengan teman2..
Dan saking meluapnya kebahagiaan
kita, kita bersujud mengucap syukur.. ... (dst)... Lalu tanpa kita sadari, di balik gerbang sekolah, ada dua orang yang juga cemas penuh harap sedang menanti bagaimana hasiL kelulusan kita... mereka berdua sabar menunggu..
Dan siapakah dua orang itu??

Merekalah kedua orang tua kita., yang sejak pa gi setia menunggu.. sejak Lama senantiasa berdoa untuk kelancaran sekolah kita.. demi kelulusan kita.. berjuang terus-menerus demi pendidikan kita.. bla-bla-bla (dst).."


"
Huhuhu.. tangis berderai... hingga aku lupa kelanjutan renungannya bagaimana... pokoe jan menyentuh banget.. bukan hanya mengingatkan akan pengorbanan orangtua dan keharusan kita untuk membahagiakan mereka dengan mempersembahkan 'hadiah' kelulusan, tapi juga mengingatkan kita akan haL2 lainnya yang berkaitan dengan UAN, masa depan, hingga segala lini kehidupan, sampai kita benar2 tergugah dan merasa kerdiL sebagai hamba Tuhan...
Ya Allah... akhirnya aku bisa nangis!! jan benar2 tak terduga, biasane ikut renungan kya apa aja aku ga tersentuh.. sama sekali ga nangis, aku pikir hatiku udah membatu.. Tapi Alhamdulillaah... banyak yang mengingatkan aku akan smw ini soalnya...
Ancaman dan remehan semua orang terhadapku, harga diri yang sebentar2 diLecehkan dengan kalimat2 yang menusuk benar2 menggugahku untuk membuktikan bahwa aku bakal bisa membahagiakan kedua orangtuaku..
Aku tak serendah yang mereka pikir..

Aku bukan manusia tak berguna yang tak punya kelebihan sedikit pun hingga dipandang sebelah mata layaknya sampah atau orang penyakitan!

Akan kubuktikan pada diriku sendiri bahwa aku mampu!! Akan kubuat orangtuaku bangga terhadapku sebagaimana duLu...


Idealisme ku pada masa siLam juga mulai membuncah kembali, muncuL semangatku untuk benar2 berjuang keras demi manghadapi UAN ini, juga SNMPTN..
Aku pikir aku harus mencoba 'bersih' dalam proses UAN, tidak ada contekan, bocoran, SMSan dengan teman, dll.. Aku akan berusaha hanya mengandaLkan Allah, menggantungkan segala harapan kepadaNya, aku ingin khusnuL khotimah..
menutup
masa SMA ku dengan tidak hanya indah, tapi melalui jalan yang 'bersih'..
Meski juga ada setitik ragu, karena ini adaLah UAN! Penentu kelulusan satu2nya!

Dan aku sadar diri selama ini bagaimana pas-pasannya aku mengasah otak..
Ya, bukan otakku yang lambreta, _aku tak mungkin memprotes ciptaan Allah_, hanya caraku mengolah diri saja yang agaknya masih salah kaprah..

Hm, selama renungan itu air mataku terus mengalir membanjiri pipiku dan lekas merah... hufff.... :( yeah, tapi aku bangga akhirnya bisa nangis! hahha..
Temenku yang juga kaget melihatku, segera mengambil poto diriku:




Ehehe...


btw, kode smile-nya aku dapet dari sini

Tuesday, April 14, 2009

Perempuan Paling Cantik

Merah darahku bulat tekadku

Setelah aku tatap wajahmu

Berkobar seluruh jiwa dan ragaku

Untuk perjuangkan cinta yang ku yakini


Putih tulangku semangat cintaku

Setelah aku raba tanganmu

Rasakan kulitmu yang selembut salju

Serentak bergelora darah mudaku


Reff:

Kamu adalah perempuan paling cantik

Di negeriku indonesia kamulah yang nomor satu

Aku tak akan bisa sukai lagi perempuan yang lainnya


Revolusi cinta matiku

Telah bergema ke seluruh negeri

Ini adalah tonggak sejarah hidupku

Karena ku yakin kamu adalah takdirku


Dengan tegasnya ku nyatakan

Kamulah akhir perjuanganku

Kuburkan cinta cinta yang sudah sudah

Kemerdekaan aku kamu yang ku tunggu


Back to Reff:



Koleksi Dewa, Dewa19 yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Dewa - Perempuan Paling Cantik di Negeriku Indonesia
Gambar Artis Indonesia

Sunday, April 12, 2009

Penjajahan Asosiatif (versi: Sosiologi)

Hei, pikiran laknat macam apa di otakmu itu?!

kenapa kubunuh waktu dengan terduduk
bersama penat jiwaku
menekuri hari-hari yang tak kunjung bergerak

Apa kau tak bosan?!

seperti jiwaku
hidup enggan mati tak mau
stagnan

Mengapa kau tak berlari?!

mana mungkin kuraih asa
melihatnya yang terombang-ambing di udara bebas
saja cukup menarik

Cepat berlari kataku, tinggaLkan suram itu,
beraLihlah pada petromaxmu!
ciptakan api unggunmu!!

bagai tak mendengar apapun
telingaku menuLi
segalanya tak kusadari
sibuk dengan imajinasiku
yang masih menari-nari

Hei, mengapa kau malah mandi air mata macam tikus got?!

kuceburkan saja tubuh ini
menyelam dan bersenang-senang
mengamati terumbu karang yang rusak sana-sini
sulit kukecap mana air laut atau Luh perempuan
sama-sama asin

Mengapa hobi sekali kau tertawa dalam air matamu?!

demi waktu
betapa meruginya hidupku
senang tak senang
sakit tak sakit
lepas hilang rasaku
kosong

Hei, mengapa kau abaikan tanyaku?!

menyenangkan sekali warna biomaku
seperti kadaL aku bebas menipu
mendendam caramu
berfantasi dalam setengah sadarku

Hei, bodoh, masih waraskah otakmu?!

Linglung.


Penutup:
Pertempuran jajah-menjajah terus berlangsung
Siapa penjajah dan terjajah
tak tahu menahu
Ini hasiL asosiatif
tak dapat dialih-tafsirkan dalam wujud kausalitas

Hanya satu terucap pesan
Menangkan jiwa olah tubuhmu




Laporan:



Hwe, yes, meskipun waktuku banyak terbunuh dengan menuliskan untaian jiwa,
tapi aku selalu me'maksa'kan diri untuk mengaitkan dengan bahan UAN,
hahahaha..
baru saja kucari potokopian LKS Sosiologiku:


Penelitian menurut taraf pemberian informasi


  1. Penelitian deskriptif:

  2. Penelitian asosiatif: Penelitian yang menjelaskan hub. antara dua variabel atau lebih,
    akan tetapi tidak dapat memberikan bukti variabel mana yang menjadi
    penyebab dan akibat.


  3. Penelitian kausalitas : Penelitian yang dapat memberikan penjelasan secara konkrit(eksplisit)
    tentang variabel yang merupakan penyebab dan variabel yang merupakan
    akibat.




Yeahaha.. dunia estetika dan asa civitas akademika memang harus berjalan seirama..
aku tak akan kehilangan keduanya.. :)