"Kau, Nak, paling sedikit kau harus bisa berteriak. Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari...." (Pramoedya A. Toer)
Sebelumnya, izinkan saya sedikit mengurai sejarah.
Aku menulis di segala tempat, di segala suasana, di segala media tulisan: kertas, catatan keuangan, tepi modul SMA, loose leaf. Menumpuk di sela-sela kolom koran, notes hape selalu, di telapak tangan, bahkan sewaktu di kamar mandi, Aku menulis di balik kartu UAN SMP, di notes kecil, di segala buku pelajaran, menyoret2 buku, lalu merobeknya… Saya benar-benar semena-mena!!
Bahkan dulu pernah ketika masih suka menangis, saya tutup pintu kamar, masuk kolong tempat tidur, membawa spidol hijau dan menuliskan kata-kata sederhana yang menyesakkan di setiap bilah permukaan kayunya yang meraung di sana. (adakah bagi kritikus sastra satu kalimat di atas sedikit tidak logis? Saya butuh koreksi.)
Tak peduli kata-kata itu hasil pemikiran, atau sekedar rekaman kisah harian.
Hehe.
Tahun lalu, pada 14 November saya menulis:
Saya suka cerita saya, sejarah hidup saya. Ya, seharusnya setiap orang bertanggungjawab terhadap hidupnya sendiri, terhadap sejarahnya.
“Bayangkan kalau tradisi menulis nggak pernah ada,
kalau tradisi merekam peristiwa, gagasan, dan perasaan nggak pernah ada,
apa kita bakal mengenal siapa ennek moyang kita?
Bayangkan kalau anda tidak menulis,
tak berusaha merekam gagasan dan pikiran-pikiran Anda,
apa cucumu nanti akan kenal siapa kamu?
Seandainya kakek saya, semasa hidupnya menulis sesuatu, mungkin sekarang saya mengenal siapa dia. tetapi itu tak pernah terjadi. Tak selembar pun tulisan yang diwariskan kakek pada saya. Saya tak pernah tahu isi kepala kakek, selain bahwa dia adalah seorang seorang lelaki tua leluhur saya. Maka jangan salahkan saya, jika saya lebih mengenal Karl Marx, Jostein Gaarder atau Pramoedya Ananta Toer, yang bukan siapa-siapa saya, daripada kakek saya sendiri.
Dendam itulah menjadi energi besar yang mendorong saya untuk terus menulis. saya tak mau dilupakan sejarah. saya mau jadi orang yang berkesadaran sejarah. Maka saya memutuskan untuk menulis. Agar kelak, jika cucu saya tak sempat tahu apa yang kakeknya pikirkan dan bicarakan semasa hidupnya, ia bisa mengenal kakeknya lewat tulisan-tulisannya!” (WIA~Fahd Djibran~JuxtaPose)
Saya pikir, itu alasan sederhana sebenarnya, tapi tidak cukup kerdil. Sebab nantinya bisa jadi akan melahirkan sesuatu yang spektakuler, dan menurut saya itu terbukti melalui buku WIA Fahd Djibran itu sendiri.
Saya bersyukur telah sadar hal itu jauh-jauh hari, sekecil apapun artefak pembentuk sejarah: sms, nota, karcis, kertas kado bekas, atau apapun yg pernah menjadi bagian dari sejarah saya, saya simpan baik-baik, apalagi notes HP, hwah.
Saya tak mau sejarah saya nantinya akan belang bontang hanya karena arsipnya yang tak lengkap.
Dan ingat, sekecil apapun catatan itu, jangan dibuang. Suatu saat catatan-catatan itu akan menjadi kekayaan kita yang paling berharga. (kutipan dari buku Writing is Amazing karya Fahd Djibran)
Suatu ketika tanggal 2 November 2009 saat saya hendak balik ke Jogja dan memboyong segepok ‘kertas hidup’ _karena mereka bisa bicara_ saya membesarkan hati dengan kalimat ini:
“mungkin mereka bilang ini sampah. tapi menurutku ini sejarah! :)”
Hm, saya tak mau sejarah saya bernasib sama seperti kebanyakan sejarah Indonesia yg diajarkan semasa sekolah dasar-menengah: jadi kabur, atau sengaja dikaburkan.
Semua berawal dari kesadaran. Saya sadar, saya bukan orang besar yg pernah berjasa banyak, mana mungkin sejarah saya akan ditulis orang, siapa yg tertarik?!
Mas BuLBuL saja dalam komentarnya pada status saya pernah nyeletuk: “Halah, kisah hidup e Lady po menarik, hahah..”
Ada yang ingat itu?! wkwk..
Secara tidak langsung saya membenarkan: “hahah…” :D
Dan yg tak kalah penting, menurut hemat saya kecenderungan terjadinya subjektivitas justru lebih kecil kemungkinannya. Karena pada prinsipnya kita sendiri yg lebih mengetahui sejatinya diri kita, apalagi jika brhubungan dgn pemikiran. Bukan berdasarkan pandangan org lain mengenai diri kita.
Kita bisa brtindak lebih objektif ketika membaca diri sendiri.
Saya sering menyemangati diri sendiri, dan saya kira itu memang sangat perlu to, dalam hal apapun kan..?! :)
Enam November tahun lalu: “menulis jangan lagi menunggu mood, tp ciptakanlah selalu m0od yg baik utk menulis! Lalu brlatihlah menulis yg baik! Huhuhu”
Atau saya merasakan sesuatu dan mencatatnya:
"bahkan partikel terkeciL penyusun tubuhku adalah kata. kata... "(05/11/2009)
Pernah juga saya bilang: Saya tidak memuja tulisan. Saya hanya berusaha membuat tulisan yang pernah saya telurkan berumur lebih panjang..
Atau juga berupa tekad, angan, impian, harapan:
Hm, suatu saat nanti, saya merasa sangat ingin menulis autobiografi, mengisahkan setiap jengkal cerita khdupan saya bersama mereka, bersama mereka, dan atas hidup saya sndri. Tidak luar biasa, tp entah sy mrasa sngat perlu berbagi dgn dunia, menuangkan ragam pmkirn yg tak ada habisnya. Entah krn niat baik atw sekedar unjuk ego demi eksistensi.. (25/10/2009)
Oya, berkaitan dengan sejarah, komitmen menyuarakan, hingga keabadian yang pernah saya singgung itu, Pak Pram dgn otak ampuhnya lagi lagi sudah duluan berbicara:
"....orang boleh pandai setinggi langit
tapi selama ia tidak menulis,
ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian.
Seketika saya terlecut dan meletup-letup ketika membacanya pertama kali di stiker Canopy dari Universitas Brawijaya yang tertempel di pintu sekretariat Balairung UGM.
Semoga anda pun begitu, entah ketika sudah membacanya yang ke berapa kali.
Ya, maka marilah menulis, torehkan sejarahmu! :)
Showing posts with label Ekspresi. Show all posts
Showing posts with label Ekspresi. Show all posts
Saturday, May 1, 2010
Sunday, April 26, 2009
Batu sandungan yg berpendar..
Aku masih sering terpaku
Kala ku meniti jalan..
Baru saja ku hanya melirik pendaran kenang masa siLam, menjadi batU sandungan yg telah membuatku terantUk berkaLi2..
Padahal aku hanya meLirik,sepintas,tanpa menjiwai bahkan tak berniat kuteng0kkan kepalaku menghadapnya, sebaB ku pikir aku takut leherku tak bisa kuputar kembaLi, terPAku di sana..
Siluet beLakang yg masih berpendar, keterPakuan yg menghujam hampir ke uLu hati, meneLusupkanku dalam keping2 kerapuhan yg neLangsa..
Perasaan Laknat macam apa ini?!
Bersama Luruhnya air mata yg tak mampu tertahan..
Seperti segaLa persendian dipaLu g0dam sampai ngiLu..
Seakan menjaLar sakitnya larut..
Atau membiru darahku sesaat, tepat ketika kegeramanku memuncak tak terhambat..
Batu sandungan yg berpendar..
Sekuat tenaga masih ku c0ba mengatupkan bibirku,menguLaskan segaris senyum, sembari meneLan ludah pahit demi tak menetesnya Luh dari mataku yg berkaca2,.
PadahaL aku slalu terduduk,hampir terSungkur setiap kali terantUk..
Harus bgaimana kuLuapkan em0siku,selain dgn menc0ba banGkit mencari asa yg timbul tenGgelam,meski merangkak hatiku tertatiH,atau malah meradang dan menerjang,,
Tak kusangka, sunGguh tak dinyana, dibalik senyumku yg senantiasa mengembang, bhkan tawaku yg terus Lepas,
diantara kekuatanku beradu ot0t dan keangkuhanku mend0ngak ke atas,
aku masihlah perempuan yg hidup dgn pendar masa silam,terantuk oleh permainan batu sandungan..
betinatanGguh macam apa aku ini?! Om0ng k0s0ng!
Harapanku hampir luruh,
Pun meski aku dan kau berpadu..
Kala ku meniti jalan..
Baru saja ku hanya melirik pendaran kenang masa siLam, menjadi batU sandungan yg telah membuatku terantUk berkaLi2..
Padahal aku hanya meLirik,sepintas,tanpa menjiwai bahkan tak berniat kuteng0kkan kepalaku menghadapnya, sebaB ku pikir aku takut leherku tak bisa kuputar kembaLi, terPAku di sana..
Siluet beLakang yg masih berpendar, keterPakuan yg menghujam hampir ke uLu hati, meneLusupkanku dalam keping2 kerapuhan yg neLangsa..
Perasaan Laknat macam apa ini?!
Bersama Luruhnya air mata yg tak mampu tertahan..
Seperti segaLa persendian dipaLu g0dam sampai ngiLu..
Seakan menjaLar sakitnya larut..
Atau membiru darahku sesaat, tepat ketika kegeramanku memuncak tak terhambat..
Batu sandungan yg berpendar..
Sekuat tenaga masih ku c0ba mengatupkan bibirku,menguLaskan segaris senyum, sembari meneLan ludah pahit demi tak menetesnya Luh dari mataku yg berkaca2,.
PadahaL aku slalu terduduk,hampir terSungkur setiap kali terantUk..
Harus bgaimana kuLuapkan em0siku,selain dgn menc0ba banGkit mencari asa yg timbul tenGgelam,meski merangkak hatiku tertatiH,atau malah meradang dan menerjang,,
Tak kusangka, sunGguh tak dinyana, dibalik senyumku yg senantiasa mengembang, bhkan tawaku yg terus Lepas,
diantara kekuatanku beradu ot0t dan keangkuhanku mend0ngak ke atas,
aku masihlah perempuan yg hidup dgn pendar masa silam,terantuk oleh permainan batu sandungan..
betinatanGguh macam apa aku ini?! Om0ng k0s0ng!
Harapanku hampir luruh,
Pun meski aku dan kau berpadu..
Sunday, April 12, 2009
Penjajahan Asosiatif (versi: Sosiologi)
Hei, pikiran laknat macam apa di otakmu itu?!
kenapa kubunuh waktu dengan terduduk
bersama penat jiwaku
menekuri hari-hari yang tak kunjung bergerak
Apa kau tak bosan?!
seperti jiwaku
hidup enggan mati tak mau
stagnan
Mengapa kau tak berlari?!
mana mungkin kuraih asa
melihatnya yang terombang-ambing di udara bebas
saja cukup menarik
Cepat berlari kataku, tinggaLkan suram itu,
beraLihlah pada petromaxmu!
ciptakan api unggunmu!!
bagai tak mendengar apapun
telingaku menuLi
segalanya tak kusadari
sibuk dengan imajinasiku
yang masih menari-nari
Hei, mengapa kau malah mandi air mata macam tikus got?!
kuceburkan saja tubuh ini
menyelam dan bersenang-senang
mengamati terumbu karang yang rusak sana-sini
sulit kukecap mana air laut atau Luh perempuan
sama-sama asin
Mengapa hobi sekali kau tertawa dalam air matamu?!
demi waktu
betapa meruginya hidupku
senang tak senang
sakit tak sakit
lepas hilang rasaku
kosong
Hei, mengapa kau abaikan tanyaku?!
menyenangkan sekali warna biomaku
seperti kadaL aku bebas menipu
mendendam caramu
berfantasi dalam setengah sadarku
Hei, bodoh, masih waraskah otakmu?!
Linglung.
Penutup:
Pertempuran jajah-menjajah terus berlangsung
Siapa penjajah dan terjajah
tak tahu menahu
Ini hasiL asosiatif
tak dapat dialih-tafsirkan dalam wujud kausalitas
Hanya satu terucap pesan
Menangkan jiwa olah tubuhmu
Laporan:
Hwe, yes, meskipun waktuku banyak terbunuh dengan menuliskan untaian jiwa,
tapi aku selalu me'maksa'kan diri untuk mengaitkan dengan bahan UAN,
hahahaha..
baru saja kucari potokopian LKS Sosiologiku:
Penelitian menurut taraf pemberian informasi
Yeahaha.. dunia estetika dan asa civitas akademika memang harus berjalan seirama..
aku tak akan kehilangan keduanya.. :)
kenapa kubunuh waktu dengan terduduk
bersama penat jiwaku
menekuri hari-hari yang tak kunjung bergerak
Apa kau tak bosan?!
seperti jiwaku
hidup enggan mati tak mau
stagnan
Mengapa kau tak berlari?!
mana mungkin kuraih asa
melihatnya yang terombang-ambing di udara bebas
saja cukup menarik
Cepat berlari kataku, tinggaLkan suram itu,
beraLihlah pada petromaxmu!
ciptakan api unggunmu!!
bagai tak mendengar apapun
telingaku menuLi
segalanya tak kusadari
sibuk dengan imajinasiku
yang masih menari-nari
Hei, mengapa kau malah mandi air mata macam tikus got?!
kuceburkan saja tubuh ini
menyelam dan bersenang-senang
mengamati terumbu karang yang rusak sana-sini
sulit kukecap mana air laut atau Luh perempuan
sama-sama asin
Mengapa hobi sekali kau tertawa dalam air matamu?!
demi waktu
betapa meruginya hidupku
senang tak senang
sakit tak sakit
lepas hilang rasaku
kosong
Hei, mengapa kau abaikan tanyaku?!
menyenangkan sekali warna biomaku
seperti kadaL aku bebas menipu
mendendam caramu
berfantasi dalam setengah sadarku
Hei, bodoh, masih waraskah otakmu?!
Linglung.
Penutup:
Pertempuran jajah-menjajah terus berlangsung
Siapa penjajah dan terjajah
tak tahu menahu
Ini hasiL asosiatif
tak dapat dialih-tafsirkan dalam wujud kausalitas
Hanya satu terucap pesan
Menangkan jiwa olah tubuhmu
Laporan:
Hwe, yes, meskipun waktuku banyak terbunuh dengan menuliskan untaian jiwa,
tapi aku selalu me'maksa'kan diri untuk mengaitkan dengan bahan UAN,
hahahaha..
baru saja kucari potokopian LKS Sosiologiku:
Penelitian menurut taraf pemberian informasi
- Penelitian deskriptif:
- Penelitian asosiatif: Penelitian yang menjelaskan hub. antara dua variabel atau lebih,
akan tetapi tidak dapat memberikan bukti variabel mana yang menjadi
penyebab dan akibat. - Penelitian kausalitas : Penelitian yang dapat memberikan penjelasan secara konkrit(eksplisit)
tentang variabel yang merupakan penyebab dan variabel yang merupakan
akibat.
Yeahaha.. dunia estetika dan asa civitas akademika memang harus berjalan seirama..
aku tak akan kehilangan keduanya.. :)
AseLi curhat-curhatan, Sumpah berantakan
"Aku hanya sedang menguji hati ini..
tentang kekuatan.. atas kesabaran dan kesetiaan..
Haha.. Saya sudah kadung kecewa terhadap diri saya sendiri..
terlalu lama berlama-lama dan berasik masyuk dengan monitor 14" ADI MicroScan (gek merk opoan iki) ini membuat saya lupa daratan..
terjun bebas menyelam ke dasar lautan..
padahaL saya sudah benar2 merasakan keasinan yang menggeilitik tenggorokan..
Huff..
saya tak habis pikir.. ngapain saja sejak pagi gak mandi2
tapi malah cuma berkubang kaya' kudaniL disini..
Saya menghibur diri kataku..
HaLah! tak pernah ada yang menghasiLkan manfaat atas kegiatan dungumu macam begitu!
Siapa biLang?!
Sudah tak usah menyangkaL.
Titik kataku.
Aku tak mau berdebat denganmu.
"Aku tidak marah padamu..
sedang aku hanya sedang berada pada titik kejenuhan..
Atau memang aku sedang tak kuasa membahasakan apa yg ingin kukatakan padamu..
menyeLami hati mencari sisa-sisa yang bersemayam... (Jumat, 20 Maret '09)"
Huwah,ada pekerjaan yang menumpuk sebenarnya..
Banyak kewajiban minta ditunaikan..
Segudang hak menuntut diberikan..
Apalagi sudah lewat jam 2 siang..
Tak genap dua jam lagi pasti saya kelabakan..
Bergegas mandi dan menyiapkan makan ganti sarapan..
pontang-panting kemari bereskan jemuran..
Obrak-abrik kamar cari buku pelajaran..
Siap-siap berangkat ke Les-Lesan..
Jangan lupa bawa jas hujan..
Nanti mampir ke tempat pengajian..
Mohon doa restu saran teman..
PasaLnya besok ujian..
matematika lagi, momok paling menakutkan!
bisa2 terancam nilai tak genap 40an..
Hedeh... kok jadi semakin berantakan ni tulisan? *tuing-tuing*
niat awaLnya bikin sajak-sajakan..
Lalu karena males-malesan banting stir pingin curhat-curhatan...
inginnya pakai kalimat-kalimat biasa khas pergauLan
mungkin sekonyoL khas Dika KambingJantan
gak lomba puitis-puitisan..
Tapi E lha dalah, lha kok malah ruwet tak beraturan..
kebanyakan konsonan jadi rima AN
Memuakkan
Tapi tak apaLah kawan..
Saya hanya sedang meredam hati yang kebimbangan..
Seperti kerasukan setan..
Untung tak sempat keluar banyak umpatan..
Diri ini memang sudah waktunya basah-basahan..
maksudnya sih diguyur hujan iman..
Bisa jadi Anda tak dapat pencerahan, kawan
Tak seperti yang saudara-saudara harapkan
sama sekaLi bahkan
Karena saya memang beLum kompeten untuk menyuarakan kebenaran
Tapi untungnya saya bukan puLa ibLis yang menebar kejahatan
dan penjajahan
Nikmati saja semaumu kawan
Sekali lagi ini sekedar curhat-curhatan
Orientasinya kepuasan bukan penghargaan
Hm..
Biarkan saya menuliskan segala ketidakberaturan..
AsaLkan nantinya Lalu lintas yang Lancar akan kembaLi saya dapatkan
semua berawaL dari sebuah kemauan, bukan?!
Saya tak percaya dengan segala kebetuLan..
Saya pikir seluruhnya tertuLis dalam LauhuL Mahfudz Tuhan..
Haha..
sudah2.. semakin tidak karuan..
penuh kata-kata banaL (=p)
"Sampai ketika kutuLiskan berjuta ayat ini, aku masih bertanya-tanya..
Siapa kau?!
Malaikat bukan apalagi mengaku Tuhan..
Tapi hadirmu yang tercatat memenuhi otakku lebih dari apapun..
Mungkin semacam kauLah yang disebut thagut daLam ayat Tuhan.." 1
"Menghindar dari keramaian..
Sendiri ingin menyendiri..
Kenangan ingin hilang ingatan..
Sesaat entah untuk sesaat..
terkungkung rasanya dikungkung..
Terabaikan ternyata diabaikan..
..
Akan kembaLi mencari jernih kebatinan..." 2
Hedeh..
ya sudah..
tak terasa panjang juga ni catatan harian..
aseLi curhat-curhatan..
kebiasaan perempuan..
merepotkan!
Hussyhh... diam-diam!
setengah lega ini pikiran..
bersiap kembali dalam rutinitas harian..
sampai djumpa kawan..
(sekaLian testing tag-tagan)
Heheu..
Footnote:
1 & 2: dari notes di hape saya
beberapa waktu yg Lalu
tentang kekuatan.. atas kesabaran dan kesetiaan..
Haha.. Saya sudah kadung kecewa terhadap diri saya sendiri..
terlalu lama berlama-lama dan berasik masyuk dengan monitor 14" ADI MicroScan (gek merk opoan iki) ini membuat saya lupa daratan..
terjun bebas menyelam ke dasar lautan..
padahaL saya sudah benar2 merasakan keasinan yang menggeilitik tenggorokan..
Huff..
saya tak habis pikir.. ngapain saja sejak pagi gak mandi2
tapi malah cuma berkubang kaya' kudaniL disini..
Saya menghibur diri kataku..
HaLah! tak pernah ada yang menghasiLkan manfaat atas kegiatan dungumu macam begitu!
Siapa biLang?!
Sudah tak usah menyangkaL.
Titik kataku.
Aku tak mau berdebat denganmu.
"Aku tidak marah padamu..
sedang aku hanya sedang berada pada titik kejenuhan..
Atau memang aku sedang tak kuasa membahasakan apa yg ingin kukatakan padamu..
menyeLami hati mencari sisa-sisa yang bersemayam... (Jumat, 20 Maret '09)"
Huwah,ada pekerjaan yang menumpuk sebenarnya..
Banyak kewajiban minta ditunaikan..
Segudang hak menuntut diberikan..
Apalagi sudah lewat jam 2 siang..
Tak genap dua jam lagi pasti saya kelabakan..
Bergegas mandi dan menyiapkan makan ganti sarapan..
pontang-panting kemari bereskan jemuran..
Obrak-abrik kamar cari buku pelajaran..
Siap-siap berangkat ke Les-Lesan..
Jangan lupa bawa jas hujan..
Nanti mampir ke tempat pengajian..
Mohon doa restu saran teman..
PasaLnya besok ujian..
matematika lagi, momok paling menakutkan!
bisa2 terancam nilai tak genap 40an..
Hedeh... kok jadi semakin berantakan ni tulisan? *tuing-tuing*
niat awaLnya bikin sajak-sajakan..
Lalu karena males-malesan banting stir pingin curhat-curhatan...
inginnya pakai kalimat-kalimat biasa khas pergauLan
mungkin sekonyoL khas Dika KambingJantan
gak lomba puitis-puitisan..
Tapi E lha dalah, lha kok malah ruwet tak beraturan..
kebanyakan konsonan jadi rima AN
Memuakkan
Tapi tak apaLah kawan..
Saya hanya sedang meredam hati yang kebimbangan..
Seperti kerasukan setan..
Untung tak sempat keluar banyak umpatan..
Diri ini memang sudah waktunya basah-basahan..
maksudnya sih diguyur hujan iman..
Bisa jadi Anda tak dapat pencerahan, kawan
Tak seperti yang saudara-saudara harapkan
sama sekaLi bahkan
Karena saya memang beLum kompeten untuk menyuarakan kebenaran
Tapi untungnya saya bukan puLa ibLis yang menebar kejahatan
dan penjajahan
Nikmati saja semaumu kawan
Sekali lagi ini sekedar curhat-curhatan
Orientasinya kepuasan bukan penghargaan
Hm..
Biarkan saya menuliskan segala ketidakberaturan..
AsaLkan nantinya Lalu lintas yang Lancar akan kembaLi saya dapatkan
semua berawaL dari sebuah kemauan, bukan?!
Saya tak percaya dengan segala kebetuLan..
Saya pikir seluruhnya tertuLis dalam LauhuL Mahfudz Tuhan..
Haha..
sudah2.. semakin tidak karuan..
penuh kata-kata banaL (=p)
"Sampai ketika kutuLiskan berjuta ayat ini, aku masih bertanya-tanya..
Siapa kau?!
Malaikat bukan apalagi mengaku Tuhan..
Tapi hadirmu yang tercatat memenuhi otakku lebih dari apapun..
Mungkin semacam kauLah yang disebut thagut daLam ayat Tuhan.." 1
"Menghindar dari keramaian..
Sendiri ingin menyendiri..
Kenangan ingin hilang ingatan..
Sesaat entah untuk sesaat..
terkungkung rasanya dikungkung..
Terabaikan ternyata diabaikan..
..
Akan kembaLi mencari jernih kebatinan..." 2
Hedeh..
ya sudah..
tak terasa panjang juga ni catatan harian..
aseLi curhat-curhatan..
kebiasaan perempuan..
merepotkan!
Hussyhh... diam-diam!
setengah lega ini pikiran..
bersiap kembali dalam rutinitas harian..
sampai djumpa kawan..
(sekaLian testing tag-tagan)
Heheu..
Footnote:
1 & 2: dari notes di hape saya
beberapa waktu yg Lalu
Saturday, April 11, 2009
Birintikinisme
Huwa...
saya selalu ingin berteriak mencaci maki merutuk diri sendiri
setiap kali gagal menggerakkan jari
menuliskan narasi sajak maupun puisi
atau sekedar menuangkan isi hati
yang terendap sunyi..
Huhuhu..
seperti kali ini
ada banyak ide segar menari-nari
ingin menuliskannya maksud hati
tapi apa boleh buat hampir slalu tak jadi
sebab terhadang ranting2 berserakan di sana-sini
mulai dari jadwal acara televisi
terperangkap obrolan kesana-kemari
muncuLnya sang penarik hati
atau sekadar memang pikiran mampet tak ada imajinasi
huff..

seperti juga kali ini
terserang ngantuk berkali-kali
padahal ingin sekali menyelesaikan ragam tulisan hari ini
huaahmm.. :O
tetap segera saya publish-kan saja catatan keciL ini
dgn maksud biar berkurang beban ini
juga tak mau notes saya kosong (no update) berhari-hari
meskipun ini sekadar basa-basi
tapi benar2 tercurah dari hati
merutuk sekali lagi
betapa bodohnya saya ini

tak punya manajemen waktu sama sekali
sampai2 lupa diri
terlalu banyak mikir nothing implementasi
huaahhmm :O
ya sudah saya ngantuk sekali
sudah menguap lebar banyak kaLi
mari kapan2 kita sambung lagi
dengan tulisan yg sedikit lebih bermakna
dari sekadar catatan ini...
ehehheheu... terimakasih :)
saya selalu ingin berteriak mencaci maki merutuk diri sendiri
menuliskan narasi sajak maupun puisi
atau sekedar menuangkan isi hati
yang terendap sunyi..
Huhuhu..
seperti kali ini
ada banyak ide segar menari-nari
ingin menuliskannya maksud hati
tapi apa boleh buat hampir slalu tak jadi
sebab terhadang ranting2 berserakan di sana-sini
mulai dari jadwal acara televisi
terperangkap obrolan kesana-kemari
muncuLnya sang penarik hati
atau sekadar memang pikiran mampet tak ada imajinasi
huff..
seperti juga kali ini
terserang ngantuk berkali-kali
padahal ingin sekali menyelesaikan ragam tulisan hari ini
huaahmm.. :O
tetap segera saya publish-kan saja catatan keciL ini
dgn maksud biar berkurang beban ini
juga tak mau notes saya kosong (no update) berhari-hari
meskipun ini sekadar basa-basi
tapi benar2 tercurah dari hati
merutuk sekali lagi
betapa bodohnya saya ini
tak punya manajemen waktu sama sekali
sampai2 lupa diri
terlalu banyak mikir nothing implementasi
huaahhmm :O
ya sudah saya ngantuk sekali
sudah menguap lebar banyak kaLi
mari kapan2 kita sambung lagi
dengan tulisan yg sedikit lebih bermakna
dari sekadar catatan ini...
ehehheheu... terimakasih :)
Subscribe to:
Posts (Atom)